What is this craze? Making sense is a futile effort, a fruitless labour. There is always a haunting sense of loneliness and an impending disaster. It’s our biggest fear, isn’t it, loneliness - alone in the city, alone in the vast land, in the big world, the endless universe, drowned in everything. Everyone belongs to someone else, and everything too. We keep trying to jump into the wagon, trying to catch up, trying to say something significant before it’s too late to say something. What is this need to identify, to associate, why all the inhibitions and limitations? Who started all this? And what is the terrible, unspeakable disaster waiting in the dark corner? Whose death? Whose heart is going to break into piercing pieces? Whose life is going to be shattered and ruined? Alone in the room, alone in the world, alone in belief, alone in principles, alone in understanding, alone in thoughts, alone in the crowd, alone with everybody. Loneliness is our curse, heavy like a mountain on our backs, in our chests. Our words, weightless. We are light as dust in the stream of time. The stars are not going to look at our faces the second time. 

Pagi menyelinap masuk dari celah jendela dan mata yang separuh terbuka dan masa tidak relevan; dia menggeliat dan menoleh ke arahku, matanya mengukir senyum. Aku mendekat sehingga hujung hidungku menyentuh kulit mukanya; dia menjarak dan berkata, “wanna fuck?”

aku seorang pekerja kolar putih
seorang penulis komersialan
seorang bawahan penerima arahan
aku seorang konsumer, seorang
target market, potensi pelanggan
seorang pemilik akaun bank
pembayar cukai pendapatan
penghutang puluh ribuan dan
hutangku berharga dipasaran
aku seorang hedonis, seorang 
pemabuk, seorang penyair
seorang punk, seorang yang
bermasalah dengan autoriti
seorang pengkritik, penentang
seorang pemimpi yang membenci
manusia dan mencintai kemanusiaan
seorang yang penuh kontradiksi!
aku juga seorang kawan, seorang 
teman, seorang kenalan di jalanan
seorang kekasih, seorang anak
seorang abang, seorang yang
tersayang buat beberapa orang
dan dibenci beberapa yang lain
aku cintakan kemanusiaan dan
membenci kebanyakan manusia
aku cintakan kebenaran dan
cuba lari dari memandangnya
aku percaya pada tuhan dan
membenci para pengikutnya
aku percaya pada cinta
tapi tanganku telah
meleburkannya

existence adalah sehelai bulu
terbang bila-bila waktu
tapi hati yang hitam
menggunung
begitu berat dada
mengandung.

apa yang hilang ialah passion
hilang dari kulit, dari bibir
dan hujung jari kita
kemudian datang lapar
kemudian hidup cuma untuk
memburu lapar
dengan sisa-sisa
sia-sia

o, demons dalam dada!
desire dalam darah!

sepasang mata yang hilang cahaya
masih mampu mengenal bahawa
bahagia adalah sebatang pokok
yang ditanam dari benih

tentunya bukan yang ini
ya, tentunya. 

sedang melarut dalam decadence
setelah segala short-cuts dan
cheap kicks: “fun, fun, fun
now, now, now!”
segala rangsang segala kata
ke dalam darah ke dalam dada
ke dalam jantung
kembali jatuh ke jurang
limbo
oblivion
gelap
berat
lemah

kalau semalam aku malaikat
hari ini aku binatang
mulia tidak lagi bermakna
jalang tidak lagi gelandangan 
maka aku tidak pernah melaknat
binatang-binatang dan
aku juga tidak pernah
memuji para malaikat
kalau semalam aku terikat
hari ini aku bertentang
maka bebaskan rambutmu
dan busurkan belakangmu
seperti seekor binatang
menanti untuk ditakluki
biar murah, biar kotor
biar marah masyarakat
biar malu para malaikat.

bahagia itu apa, sahabat?
bila aku bekerja, bahagia seperti menanti
di dalam sehelai surat perletakan jawatan
sekarang bila merdeka aku kembali berharap
pada pekerjaan dan gaji di hujung bulan
bila sendiri aku mahukan teman
bila aku punya perempuan
aku mahu kembali menjadi
gelandangan. 

aku tidak percaya pada bahagia
kerana aku masih belum bertemu
bahagia itu apa, sahabat.